MASSACHUSETTS, - Astronom menemukan empat galaksi merona di kedalaman angkasa, berjarak 13 miliar tahun cahaya dari Bumi. Galaksi itu dikatakan merona karena warna yang ekstrim merah.
Saking merahnya, empat galaksi itu tak bisa terdeteksi oleh teleskop Hubble. Astronom mesti menggunakan Teleskop Spitzer yang sensitif dengan cahaya inframerah.
"Kami harus menuju ke yang ekstrim dalam mendapatkan model untuk menyesuaikan dengan observasi ini," kata Jiansheng Huang, peneliti dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics (CfA).
Huang ialah pimpinan dari penelitian yang dipublikasikan di Astrophysical Journal. Huang melihat bahwa dalam pengamatan Spitzer, empat galaksi itu tampak 60 kali lebih terang daripada pengamatan Hubble.
Galaksi bisa tampak begitu merona oleh beberapa sebab. Pertama, mereka mungkin punya banyak debu. Kedua, mereka memiliki banyak bintang tua. Dan ketiga, mereka mungkin sangat jauh. Alasan pastinya belum diketahui.
Keempat galaksi tersebut terletak berdekatan dalam pengamatan Spitzer. Menurut prediksi Huang, karena berjarak begitu jauh, galaksi yang terlihat adalah pada masa awal setelah Big Bang.
"Hubble menunjukkan pada kita bukti protogalaksi yang terbentuk, tapi tak ada yang terlihat seperti ini. Galaksi ini mungkin "missing link" dalam evolusi galaksi," ungkap Giovani Fazio, peneliti lain yang juga dari CfA.
Tahap selanjutnya dari penelitian ini, ilmuwan akan mengukur lebih akurat tingkat merah dari galaksi ini. Penelitian itu membutuhkan teleskop yang lebih kuat, seperti Atacama Large Millimeter Array di Chile.
Ilmuwan juga akan mencari galaksi lain yang satu "spesies" dengan keempat galaksi itu. "Ada bukti tentang keberadaan yang lain di zona langit yang lain. Kami akan menganalisa dengan Spitzer dan Hubble," lanjut Fazio seperti dikutip Physorg, Kamis (1/12/2011). (sumber: KOMPAS.com)
ORLEANS, - Robot dalam dunia industri biasanya digunakan untuk perakitan mobil, membawa material dalam sebuah pabrik dan membersihkan sesuatu. Kini, sebuah robot akan digunakan untuk tujuan seni, membangun sebuah menara dari kotak polystyrene.
Hebatnya, robot akan membangun menara sambil terbang. Saat ini, seperti diberitakan Daily Mail, Kamis (1/12/2011), robot yang disebut quadcopters itu tengah menjalani pre-set flight program untuk mendirikan instalasi menara di FRAC Center di Orleans, Perancis.
Pembangunan instalasi menara dengan robot terbang itu adalah prakarsa firma arsitek Swiss, Gramazio & Kohler dan pakar robotik Raffaello d’Andrea. Menara nantinya akan memiliki ukuran tinggi 6 meter dan lebar 3,35 meter. Sebanyak 1.500 kotak polystyrene akan menjadi bahan bakunya.
Sebanyak 50 robot terbang nantinya akan dikerahkan untuk membangun menara yang diberi nama Flight Assembled Architecture. Meski banyak, tak ada bahaya. Robot tak akan bertabrakan satu sama lain karena telah dilengkapi sensor yang mendeteksi gerakan robot lain. Rencananya, instalasi menara akan diselesaikan Februari 2012. (sumber: Kompas.com)
SYDNEY— Spesies penyu sungai Australia (Emydura macquarii) meletakkan sekumpulan telur di pasir sungai. Telur yang berada di bawah perkembangannya lebih lambat daripada yang di atas. Namun, telur di kedua bagian itu ternyata menetas bersama.
Ricky-John Spencer dari University of Western Sydney di Australia penasaran dengan fakta tersebut. Ia menduga bahwa telur-telur tersebut "saling bicara" terlebih dahulu sebelum menetas.
Untuk membuktikan dugaannya, ia merancang eksperimen. Spencer membagi sejumlah telur menjadi dua bagian. Satu bagian diinkubasi di suhu lebih yang tinggi, sedangkan bagian lain diinkubasi di suhu lebih yang rendah. Setelah dua pertiga masa perkembangan telur, keduanya lalu disatukan kembali.
Hasil menunjukkan bahwa kedua bagian telur tetap menetas dalam waktu bersamaan. Ketika dipersatukan, telur yang lebih lambat perkembangannya mengejar sehingga bisa menetas di waktu yang sama.
Menurut Spencer, kedua bagian telur itu mungkin berkomunikasi secara kimia. "Telur itu sebenarnya bernapas. Mereka menghirup oksigen dan mengeluarkan CO2," katanya seperti dikutip New Scientist, Rabu (30/11/2011).
Spencer menjelaskan bahwa telur yang lebih cepat perkembangannya akan mengeluarkan CO2 lebih banyak. Konsentrasi CO2 ini yang menjadi semacam "panggilan" sekaligus pemicu agar telur lain lebih cepat berkembang.
Hasil penelitian Spencer dipublikasikan di Proceeding of the Royal Society B edisi terbaru November 2011. Spencer menjelaskan bahwa menetas bersama sangat penting bagi kesintasan penyu. Hal itu akan memastikan individu yang rentan terlindungi dari predator. Mereka memiliki teman yang melindungi. (Sumber: KOMPAS.com)
Tony Seno Hartono, National Technology Officer dari Microsoft Indonesia menilai perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ditunjukkan oleh para mahasiswa sudah ada dalam jalur yang benar. Hal tersebut terungkap pada saat pengumuman pemenang Imagine Cup 2011 Indonesia, Selasa (3/5).
Dua ramalan Albert Einstein dalam teori relativitas terbukti benar oleh misi Gravity Probe B milik NASA. Sebelumnya, teori Einstein tersebut sulit dikonfirmasi. "Teori Einstein bertahan," kata Francis Everitt, kepala penelitian dari Stanford University, California, Amerika Serikat.